Inilah Alasan Mengapa Tidak Ada Pesawat Terbang di Atas Gunung Everest

    Himalaya memiliki beberapa puncak tertinggi di dunia, termasuk Gunung Everest. Pegunungan ini memiliki ketinggian rata-rata lebih dari 6.100 meter.

    Gunung Everest merupakan gunung tertinggi di bumi dengan puncak ketinggiannya mencapai 8.850 meter di atas permukaan laut. Walaupun baik dari pemerintah Nepal maupun pemerintah Tiongkok belum mengesahkan ukuran ini secara resmi, mereka menganggap puncak Gunung Everest masih 8.848 meter.

    Namun, perkiraan umum yang digunakan pada saat ini adalah 8.850 meter yang diperoleh melalui bacaan GPS. Tidak menutup kemungkinan gunung di Himalaya terus bertambah tinggi akibat dari pergerakan lempeng tektonik di kawasan tersebut.

    Daerah ini dipenuhi dengan salju dan hampir tidak memiliki permukaan datar, sehingga jika terjadi penurunan kabin secara tiba-tiba, akan sangat sulit melakukan pendaratan darurat di sana.

    Selain itu, area ini berpenduduk luamayan rendah yang mengakibatkan kurangnya radar pesawat. Padahal radar sangat penting bagi keselamatan penerbangan. Tanpa radar pilot tidak akan bisa berkomunikasi dengan darat untuk mengetahui kondisi penerbangan.

    Bahan bakat jet mungkin bisa membeku karena suhu di atas sana juga bisa menjadi sangat dingin. Biasanya bahan bakar yang digunakan di pesawat baru membeku di suhu -45° C, namun, mungkin juga bisa membeku di atas Gunung Everest.

    Suhu terendah di sana terjadi pada Bulan Desember 2004, dimana termometer menunjukkan -42° C. Itulah mengapa para pilot enggan untuk mengambil resiko tersebut, apalagi untuk penerbangan komersial.

    Walaupun menjadi daerah yang ekstrem untuk dilewati pesawat terbang, bukan berarti Himalaya tidak memiliki bandara. Beberapa bandara yang terletak di Himalaya, ada 1 bandara yang dianggap paling sulit dicapai di dunia.

    Bandara tersebut bernama Bandara Internasional Paro. Berada di ketinggian 5.486 meter di atas permukaan laut dan landasan pacu yang hanya sepanjang 1.964 meter. Lokasinya yang curam dan lintasan yang sempit menjadikan bandara ini sebagai salah satu bandara yang berbahaya di dunia.

    Bahkan pada Bulan Oktober 2009, hanya ada 8 pilot di seluruh dunia yang mendapat sertifikat untuk mendarat di bandara ini.

    Selain itu penerbangan di Bandara Paro hanya diperbolehkan ketika cuaca sedang baik dan hanya boleh berlangsung dari matahari terbit sampai matahari terbenam saja.

Komentar

Posting Komentar